Inilah 17 Pahlawan Nasional Asal Manado

By Admin GPMPI 22 Agu 2020, 11:25:04 WIB Sejarah Indonesia
Inilah 17 Pahlawan Nasional Asal Manado

Manado, GPMPI.com - Perjuangan rakyat Indonesia untuk meraih kemerdekaan bukanlah hal yang mudah. Para pahlawan Indonesia harus melalui serangkaian perang dan pertumpahan darah untuk dapat meraihnya. Sebelum kemerdekaan pun, Indonesia harus mengalami penjajahan dari dua bangsa yang berbeda yaitu Belanda dan Jepang. Masa sulit itu membuat rakyat Indonesia bersatu untuk mengusir penjajah dan merebut kemerdekaan Indonesia.

Banyak pahlawan yang gugur selama perjuangan kemerdekaan. Diantaranya banyak yang berasal dari Sulawesi Utara. Dari sekian banyak pahlawan yang gugur, baru 9 orang tokoh sudah dianugrahi gelar sebagai pahlawan nasional. Berikut 17 tokoh asal Manado yang memiliki peran penting dalam mewujudkan dan mempertahankan NKRI:

1. Pierre Tendean

Kapten Czi (Anumerta) Pierre Andreas Tendean, lahir pada 21 Februari 1939. Dia meninggal saat pemberontakan PKI pada 30 September 1965 atau wafat pada usia 26 tahun.

Dia mengawali karier militer dengan menjadi intelijen dan kemudian ditunjuk sebagai ajudan Jenderal Besar TNI Abdul Haris Nasution dengan pangkat letnan satu, ia dipromosikan menjadi kapten anumerta setelah kematiannya.

Pierre adalah anak dari Dokter AL Tendean asal Manado dan Maria Elizabeth Cornet, keturunan Indo-Perancis. Dia bahkan dijuluki "Robert Wagner dari Panorama" oleh gadis-gadis remaja Bandung.

Robert Wagner merupkan actor dan bintang film Amerika Serikat yang terkenal tahun 1960-an. Bumi Panorama, itulah sebutan untuk kampus Akademi Teknik Angkatan Darat.

Pierre adalah anak kedua dari tiga bersaudara, kakak dan adiknya bernama Mitze Farre dan Rooswidiati. Pierre mengenyam sekolah dasar di Magelang, lalu melanjutkan SMP dan SMA di Semarang tempat ayahnya bertugas.

Sejak kecil, ia sangat ingin menjadi tentara dan masuk akademi militer, namun orang tuanya ingin ia menjadi seorang dokter seperti ayahnya atau seorang insinyur. Karena tekadnya yang kuat, ia pun berhasil bergabung dengan ATEKAD di Bandung pada 1958.

Dia bertugas memimpin sekelompok relawan di beberapa daerah untuk menyusup ke Malaysia. Pada 15 April 1965, Pierre dipromosikan menjadi letnan satu, dan ditugaskan sebagai ajudan Jenderal Besar TNI Abdul Haris Nasution.

Atas jasa-jasanya kepada negara, Kapten CZI TNI Anumerta Pierre Andreas Tendean dianugerahi gelar Pahlawan Revolusi berdasarkan SK Presiden RI No. 111/KOTI/Tahun 1965, pada 5 Oktober 1965. Sejak berlakunya Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2009, gelar ini diakui juga sebagai Pahlawan Nasional.

2. Robert Wolter Mongisidi

Robert Wolter Monginsidi di adalah seorang pejuang kemerdekaan Indonesia sekaligus pahlawan nasional Indonesia. Ia lahir di Malalayang, Manado, Sulawesi Utara, 14 Februari 1925 dan meninggal di Pacinang, Makassar, Sulawesi Selatan, 5 September 1949 pada umur 24 tahun.

Di dalam Alkitab yang dipegangnya ada kertas bertulis “Setia hingga terachir didalam kejakinan” tertanggal 5 September 1949. Robert merupakan anak dari Petrus Monginsidi dan Lina Suawa.

Dia memulai pendidikannya pada 1931 di sekolah dasar (bahasa Belanda: Hollands Inlandsche School atau (HIS), yang diikuti sekolah menengah (bahasa Belanda: Meer Uitgebreid Lager Onderwijs atau MULO) di Frater Don Bosco di Manado.

Kemerdekaan Indonesia diproklamasikan saat ia berada di Makassar. Namun, Belanda berusaha untuk mendapatkan kembali kendali atas Indonesia setelah berakhirnya Perang Dunia II. Mereka kembali melalui NICA (Netherlands Indies Civil Administration/Administrasi Sipil Hindia Belanda). Ia juga terlibat dalam perjuangan melawan NICA di Makassar.

Pada tanggal 17 Juli 1946, Monginsidi dengan Ranggong Daeng Romo dan lainnya membentuk Laskar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi (LAPRIS), yang selanjutnya melecehkan dan menyarang posisi Belanda. Dia ditangkap oleh Belanda pada 28 Februari 1947, tetapi berhasil kabur pada 27 Oktober 1947. Belanda menangkapnya kembali dan kali ini Belanda menjatuhkan hukuman mati kepadanya.

Mongisidi dieksekusi oleh tim penembak pada 5 September 1949. Jasadnya dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Makassar pada 10 November 1950. Robert Wolter Mongisidi dianugerahi sebagai Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Indonesia pada 6 November, 1973.

3. Sam Ratulangi

Gerungan Saul Samuel Jacob Ratulangi atau dikenal dengan Sam Ratulangi lahir pada tanggal 5 November 1890 di Tondano, Minahasa. Sam Ratulangi adalah putra Jozias Ratulangi dan Augustina Gerungan. Jozias Ratulangi adalah guru Hoofden School atau sekolah menengah untuk anak-anak dari kepala-kepala desa di Tondano.

Augustina Gerungan putri Kepala Distrik Tondano-Touliang, Jacob Gerungan. Sam Ratulangi mengawali pendidikannya di Tondano yaitu sekolah dasar Belanda, Europeesche Lagere School, lalu melanjutkan pendidikan ke Hoofden School.

Pada 1904, Sam Ratulangi berangkat ke Jawa bersekolah di Sekolah Pendidikan Dokter Hindia (STOVIA) dengan beasiswa. Pada 1911, Sam Ratulangi kembali ke Minahasa, karena sang Ibu sakit parah yang kemudian meninggal dunia pada 19 November 1911.

Sedangkan sang Ayahnya sudah meninggal dunia sewaktu Sam Ratulangi berada di Jawa. Pada 1915, Sam Ratulangi berhasil memperoleh ijazah guru ilmu pasti atau Middelbare Acte Wiskunde en Paedagogiek dari Universitas Amsterdam, Belanda.

Pada 1919, Sam Ratulangi memperoleh gelar Doktor der Natur-Philosophie (Dr Phil) untuk Ilmu Pasti dan Ilmu Alam dari Universitas Zurich. Sam Ratulangi dikenal dengan filsafatnya: "Si tou timou tumou tou" yang artinya manusia baru dapat disebut sebagai manusia, jika sudah dapat memanusiakan manusia.

Pada 1923, Sam Ratulangi menjadi sekretaris badan perwakilan daerah Minahasa di Manado (Minahasa Raad) pada 1924 -1927. 5 April 1946, Sam Ratulangi beserta para pengikutnya dipenjarakan selama satu bulan di Ujung Pandang sebelum dibuang ke Serui, Irian Jaya.

Pada 10 November 1948 ketika terjadi pemecahbelahan persatuan bangsa Indonesia, Sam Ratulangi mengeluarkan Manifes Ratulangi. Isinya adalah pernyataan keras dari Sam Ratulangi yang menentang Indonesia bagian Timur dari Republik Indonesia.

Sam Ratulangi meninggal dunia pada 30 Juni 1949 dan dimakamkan sementara di Tanah Abang sebelum pada 23 Juli 1949, jenazahnya dipindahkan ke Manado. Pada 1961, Sam Ratulangi diberi anugrah dengan gelar Pahlawan Nasional Indonesia melalui Keppres No. 590 Tahun 1961.

4. Bernard Wilhelm Lapian

Bernard Wilhelm Lapian. Lapian lahir di Kawangkoan 30 Juni 1892. Ia wafat di Jakarta pada 5 April 1977 dalam usia 84 tahun.Lapian punya banyak julukan. Dari pahlawan tiga zaman hingga sang nasionalis religius.

Jelang perang dunia 2, nasionalisme di Minahasa menurun. Mereka termakan propaganda Belanda untuk memasukkan Minahasa sebagai provinsi ke 12 Belanda. Ia mendirikan surat kabar Semangat Hidup untuk melawan propaganda Belanda itu.

Menurut Turambi, pengalaman berorganisasi serta di dunia pers menumbuhkan sikap demokratis pada Lapian. Hal itu tampak saat ia menjadi anggota Volksraaad Minahasa tahun 1930. Umumnya anggota Volksraad menampilkan sikap feodalistik.

Puncak perjuangan Lapian adalah peristiwa merah putih di Manado. Dikisahkan pada 7 Januari 1946, Lapian yang waktu itu menjabat sebagai Wali kota Manado didatangi para nasionalis antaranya Tumbelaka, Taulu serta Wuisan.

Mereka memberitahu Lapian rencana mengadakan perebutan kekuasaan. Lapian setuju namun menyuruh keduanya bergerak diam - diam. Diputuskan hari H pada 14 Februari. Namun rencana itu tercium Belanda. Buktinya Ch Taulu serta Wuisan ditangkap oleh tentara Belanda sehari sebelum hari h. Meski demikian rencana perebutan kekuasaan terus berlanjut.

Dimulai pukul 1 dinihari, dua jam kemudian bendera merah putih sudah berkibar di tangsi Belanda di Teling. Peristiwa bersejarah itu menjadi headline sejumlah pers barat antaranya Radio Australia, BBC London serta surat kabar dari Amerika.

Radio Australia bahkan menyiarkan pidato Presiden Sukarno tentang peristiwa itu. "Minahasa walaupun terkecil dan terpencil di wilayah republik Indonesia, namun putra putrinya telah memperlihatkan kesatriaan terhadap panggilan ibu pertiwi, laksanakan tugasmu dengan seksama dan penuh tanggung jawab," kata Sukarno.

Surat kabar terbesar waktu itu di Indonesia Merdeka menulis peristiwa itu dengan judul "Pemberontakan besar di Minahasa". Dua hari setelah penyerbuan yang berani itu, CH Taulu yang menjadi pimpinan tertinggi tentara republik indonesia Sulawesi utara menggelar rapat di kantor Dewan Minahasa di Manado.

Rapat dihadiri pembesar militer sipil, hukum tua di Minahasa, raja Bolmong serta kepala daerah Gorontalo. Disepakati pembentukan Dewan musyawarah masyarakat Sulut dengan Lapian menjadi kepala pemerintahan sipil Sulut.

Setelah diangkat, Lapian langsung melakukan sejumlah langkah progresif. Pada 21 Februari, Lapian mengumumkan wilayah Sulut serta tengah, bekas residen Manado adalah bagian dari pemerintah republik Indonesia. Pada 11 Maret 1946, Lapian ditangkap lalu dipenjara di tangsi Teling. Setahun kemudian ia dipenjara di Cipinang. Pada 1948, Lapian dibawa ke penjara Sukamiskin.

Setahun kemudian ia dibebaskan bersamaan dengan penyerahan kedaulatan. Oleh pemerintahan Sukarno, ia diangkat sebagai Gubernur Sulawesi. Tugasnya tak ringan. Membereskan Kahar Muzakar. Lapian bersama seorang anaknya melakukan langkah berani dengan menemui Kahar Muzakar di tempat persembunyian.

Ia berangkat tengah malam. Kembali ke rumah Gubernur tiga hari kemudian. Lapian juga berhasil merintis pemilu di Minahasa.

BW Lapian bersama tokoh-tokoh lainnya kemudian mendeklarasikan berdikarinya Kerapatan Gereja Protestan Minahasa (KGPM) tahun 1933, yaitu suatu gereja mandiri hasil bentukan putra-putri bangsa sendiri yang tidak bernaung di dalam Indische Kerk.

5. John Lie - Hantu Laut

John Lie merupakan salah satu pahlawan nasional yang berasal dari etnis Tionghoa. John Lie lahir di Manado pada 9 Maret 1911. Pria dengan nama lengkap Jahja Daniel Dharma ini adalah penyelundup senjata ulung untuk pejuang Ibu Pertiwi.

Saking pandainya berdalih dari armada laut Belanda yang berpatroli di laut Indonesia, John Lie sampai mendapatkan julukan sebagai 'Hantu Selat Malaka'. John Lie bergabung dengan Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pada tahun 1946 setelah dirinya bersama dengan puluhan rekannya di pelayaran KPM (Koninlijk Paketvaart Maatschapij) kembali ke Tanah Air pasca kekalahan Jepang pada Agustus 1945.

Sebelum bergabung dengan ALRI, rupanya John Lie mempelajari sistem pembersihan ranjau laut dari Royal Navy milik Belanda di Pelabuhan Singapura. Melansir Tribunnews, setelah bergabung dengan ALRI, John Lie pun ditugaskan untuk menjadi penyelundup barang ekspor guna membiayai kas negara.

John Lie telah melakukan operasi penyelundupan setidaknya 15 kali. Bahkan, ia pernah ditangkap oleh Perwira Inggris saat kapalnya membawa 18 drum minyak kelapa sawit. John Lie juga pernah mengalami peristiwa menegangkan saat membawa senjata semiotomatis dari Johor ke Sumatera.

Saat itu, ia dihadang oleh pesawat terbang patroli Belanda. Dua penembak jitu mengarahkan senjata ke kapal mereka. John Lie yang tak gentar pun menolak mundur saat dihadang komandan armada laut Belanda.

Setelah beberapa saat terlibat adu debat yang alot, Komanda armada Belanda akhirnya tak mengeluarkan perintah untuk menembak. Pesawat itu malah meninggalkan The Outlaw tanpa insiden.

Belakangan diketahui ternyata pesawat Belanda tersebut pergi karena bahan bakarnya semakin menipis. Atas keberhasilannya mengelabui dan kabur dari intaian para pasukan Belanda, John Lie pun dijuluki sebagai si 'Hantu Selat Malaka'. John Lie wafat pada 27 Agustus 1988 daam usia 77 tahun.

Dia gelar Pahlawan Nasional pada tahun 2009 di era kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono. John Lie dianugerahkan gelar Bintang Mahaputera Adipradana dan namanya digunakan sebagai nama Kapal Perang Indonesia, KRI John Lie pada tahun 2017.

6. Alexander Andries Maramis - Diminta Soekarno Bentuk Pemerintahan

Alexander Andries Maramis, atau AA Maramis, adalah tokoh penting di masa-masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Ia termasuk tokoh yang merumuskan dasar negara Republik Indonesia bersama dalam Panitia Sembilan anggota Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPK), yang dibentuk tanggal 1 Maret 1945.

AA Maramis lahir pada 20 Juni 1897 di Desa Paniki Bawah. AA Maramis masih punya pertalian darah dengan pahlawan Sulut lainnya yaitu Maria Walanda Maramis. Ia menamatkan pendidikan dasarnya pada tahun 1911 di sekolah elit Belanda di Manado, yakni Europeesche Lagere School (ELS).

Sekolah tersebut terletak di pusat Kota Manado, yang sekarang menjadi SD N 4 Manado. Selesai menamatkan pendidikan dasarnya, keluarga berembuk untuk menyekolahkan AA Maramis ke pendidikan sekolah yang lebih tinggi di Batavia yakni Hogere Burger School (HBS) , mengingat saat itu Manado hanya salah satu wilayah keresidenen Ternate.

Pada tahun 1918 keluarga lalu mengirim AA Maramis ke HBS di Jalan Matraman. Pada Juni 1924 AA Maramis berhasil menyelesaikan studi dan mendapat gelar Meester in de Rechten atau ahli hukum. Zaman itu tak banyak orang yang mendapat gelar tersebut. AA Maramis kembali ke tanah air pada Juli 1924.

Ia mendapat tawaran pemerintah Hindia Belanda untuk menjadi pegawai mereka, namun AA Maramis menolaknya. AA Maramis memilih menjadi pengacara bagi rakyat Indonesia yang kurang mampu. Dari sinilah perjuangan AA Maramis bagi bangsa dan negara dimulai.

Maramis diangkat sebagai Menteri Keuangan dalam kabinet Indonesia pertama pada 26 September 1945. Maramis berperan penting dalam pengembangan dan pencetakan uang kertas Indonesia pertama atau Oeang Republik Indonesia (ORI).

19 Desember 1948, Belanda memulai Agresi Militer Belanda II pada saat pemerintahan Hatta. Soekarno, Hatta, dan pejabat pemerintahan lainnya yang berada di Yogyakarta ditangkap dan diasingkan ke Pulau Bangka. Maramis pada saat itu sedang berada di New Delhi, India.

Dia menerima kawat dari Hatta sebelum Hatta ditangkap dengan instruksi untuk membentuk pemerintahan darurat di pengasingan di India seandainya Sjafruddin Prawiranegara tidak dapat membentuk pemerintahan darurat di Sumatra.

Prawiranegara mampu membentuk Pemerintah Darurat Republik Indonesia dan Kabinet Darurat di mana Maramis diangkat sebagai Menteri Luar Negeri. Setelah Soekarno dan Hatta dibebaskan, Prawiranegara mengembalikan pemerintahan kepada Hatta pada tanggal 13 Juli 1949 dan Maramis kembali menjabat sebagai Menteri Keuangan.

Mei 1977, ia dirawat di rumah sakit setelah mengalami perdarahan. Maramis meninggal dunia pada tanggal 31 Juli 1977 di Rumah Sakit Angkatan Darat Gatot Soebroto, hanya 13 bulan setelah ia kembali ke Indonesia. Jenazahnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. AA Maramis dianugerahi gelar Pahlawan Nasional jelang Hari Pahlawan 10 November 2019.

7. Arie Frederik Lasut

Arie Frederick Lasut adalah pahlawan Nasional asal Sulawesi Utara. Arie Lasut lahir pada 6 Juli 1918 di Kapataran, Lembean Timur, Minahasa, Sulawesi Utara. Arie Lasut adalah putera tertua dari delapan anak dari Darius Lasut dan Ingkan Supit.

Arie Lasut memulai pendidikannya pada tahun 1924 di sekolah dasar Belanda (Hollands Inlandse School), kemudian melanjutkan ke sekolah guru (Hollandse Inlandse Kweekschool). Sekolah guru ini tidak diselesaikan tetapi pindah ke Sekolah Menengah Umum Tingkat Atas (Algemeene Middlebare School) bagian B (Wisen Natuurkundiege Afdeling (IPA)).

Setelah tamat, pada 1939 beliau ikut ujian masuk kursus asisten geologi pada Dienst van den Mijnbouw (selanjutnya menjadi Jawatan Tambang dan Geologi). Arie Lasut kemudian berkarir serta melakukan penelitian tentang geologi dan pertambangan Indonesia yang kemudian makin menebalkan rasa cinta tanah air dan jiwa pejuangnya.

Kemudian bersama R Sunu Sumosusatro merupakan asisten ahli geologi Indonesia pertama. Pada 11 September 1945, Arie Frederik Lasut ikut serta dalam pengambil-alihan Chisitsu Chosajo (jawatan geologis) dari Jepang yang berhasil dilakukan dengan damai, kemudian mengganti namanya menjadi "Jawatan Tambang dan Geologi, Ing Ngarso Sung Tulodo".

Tanggal 16 Maret 1946, Arie Frederik Lasut dipilih dan diserahi tugas menjadi Kepala Jawatan Tambang dan Geologi, pada saat usianya baru menginjak 28 tahun.

Kepahlawanan Arie Frederik Lasut tidak hanya terbatas melalui ilmu dan teknologi serta pada penyelamatan dokumen geologi dan tambang tetapi juga dengan berani mati berjuang di medan pertempuran di antara desing peluru sebagai Komandan Kompi BS (Berdiri Sendiri) Brigade 16, Kesatuan Reserse Umum X .

Arie Lasut beberapa kali menyerang pos Belanda dan merebut senjata dari tangan Belanda kemudian dibagi-bagi kepada anak buahnya dan digunakan untuk melawan Belanda. Secara organisasi Arie Frederik Lasut turut aktif dalam organisasi Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi (KRIS) yang memiliki tujuan membela kemerdekaan Republik Indonesia.

7 Mei 1949, Arie Frederik Lasut akhirnya berhasil ditangkap tentara Belanda dari rumahnya lalu dibawa ke Pakem, sekitar 7 kilometer di utara Yogyakarta. Setelah ditangkap, dalam perjalanan menuju Pakem, Arie Frederik Lasut dipukul, disiksa dengan kejam agar mau memberitahukan rahasia negara berupa kekayaan tambang/geologi.

Penyiksaan kejam selama berjam-jam tersebut ternyata tidak membuat Arie Frederik Lasut berkhianat bagi negaranya, bagi tanah leluhurnya Toar Lumimuut, tapi justru memicu semangat berani mati untuk kejayaan Bangsa dan negara Indonesia!

Setelah dihajar dengan popor senjata, ditampar dan dipukul, serta disiksa habis-habisan, Arie Frederik Lasut tetap tidak mengeluarkan sepatah-katapun dari mulutnya. Akhirnya sambil menatap tentara Belanda dengan gagah berani, beliau ditembak dengan keji oleh tentara Belanda yang putus asa.

Arie Frederik Lasut wafat di Pakem, Sleman, Yogyakarta, 7 Mei 1949 pada umur 30 tahun. Beberapa bulan kemudian jenazah Arie Frederik Lasut dipindahkan ke pekuburan Kristen Kintelan di Yogyakarta di samping isterinya yang lebih dulu meninggal pada Desember 1947.

Upacara penguburan dihadiri pejabat presiden Republik Indonesia pada saat itu, Mr Assaat. Arie Lasut mendapat penghargaan Pahlawan Pembela Kemerdekaan Nasional oleh Pemerintah Republik Indonesia melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 012/TK/TAHUN 1969 tentang Penetapan Sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional.

8. Lambertus Nicodemus Palar

LN Palar lahir Rurukan, Tomohon, Sulawesi Utara pada 5 Juni 1900. LN Palar merupakan seorang anak dari pasangan suami istri Gerrit Palar, seorang penilik sekolah dan Jacoba Lumanauw. LN Palar menikah dengan seorang perempuan bernama Johanna Petronella "Yoke" Volmers.

Dari pernikahan itu, LN Palar dikaruniai tiga orang anak, Mary Elizabeth Singh, Maesi Martowardojo, dan Bintoar Palar. LN Palar meninggal di Jakarta pada 13 Februari 1981 dalam usia 80 tahun. LN Palar dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Tanah Kusir, Jakarta Selatan.

LN Palar mengenyam pendidikan formal pertamanya di Meisjes School di Tomohon kemudian pindah ke Hoofd School di Tondano. Lulus dari Hoofd School, LN Palar melanjutkan ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) antara 1916 sampai 1919. LN Palar kemudian melanjutkan pendidikan menengahnya ke Algemeene Middlebare School (AMS) di Yogyakarta.

Selama di Yogyakarta, LN Palar tinggal bersama Sam Ratulangi. Setamat sekolah menengah, LN Palar melanjutkan ke Technische Hooge School (THS) di Bandung (sekarang ITB) pada tahun 1922 sampai 1923, namun LN Palar tidak sempat menyelesaikannya karena sakit.

Setelah pulih dari sakitnya, LN Palar kemudian pada 1924 melanjutkan kuliah ke Sekolah Tinggi Hukum (Rechts Hooge School) di Batavia. Di Batavia inilah LN Palar mulai aktif dalam pergerakan nasional dengan bergabung dalam Jong Minahasa.

Pada 1926-1928, ia melanjutkan pendidikan di Gementelijke Universiteit di Amsterdam sembari bekerja di kota itu. Di parlemen, LN Palar juga mendesak pemerintah Belanda untuk menyelesaikan secara damai konflik Belanda-Indonesia tanpa adanya kekerasan bersenjata.

Namun pada 20 Juli 1947, parlemen menyetujui kebijakan Agresi Militer I untuk menyelesaikan konflik di Indonesia. Setelah bertemu dengan Soekarno dan tokoh-tokoh pergerakan lainnya, seperti Sutan Sjahrir dan Agus Salim, LN Palar kemudian mengundurkan diri dari parlemen sebagai bentuk protes atas tindakan Belanda dalam Agresi Militer I.

Dari sinilah kontribusi LN Palar dalam perjuangan diplomasi Indonesia dimulai. LN Palar yang merupakan seorang putera terbaik Sulawesi Utara itu meninggal pada 12 Februari 1981 di usia 80 tahun.

LN Palar dianugerahi gelar Pahlawan Nasional bertepatan pada hari pahlawan 10 November 2013 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) berdasarkan Keppres No.68/TK/Tahun 2013, Tanggal 6 November 2013.

9. Maria Walanda Maramis

Maria Josephine Catherina Maramis, atau yang lebih dikenal dengan nama Maria Walanda Maramis merupakan Pahlawan Nasional Indonesia. Ia dikenal sebagai pahlawan yang berusaha memajukan keadaan wanita di Indonesia pada awal abad ke-20.

Maria Walanda Maramis dianggap sebagai pendobrak adat dan pejuang emansipasi wanita di dunia politik serta pendidikan. Maria diberi gelar Pahlawan Pergerakan Nasional dari pemerintah Indonesia pada 20 Mei 1969 silam.

Maria kecil menghabiskan sebagian besar waktunya di Minahasa Utara. Lahir dari pasangan Maramis dan Sarah Rotinsulu, Maria merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara. Namun pada usia enam tahun, Maria Walanda Maramis harus menjadi yatim piatu lantaran kedua orang tuanya jatuh sakit dan meninggal.

Maria kecil dan kedua saudaranya kemudian diasuh oleh sang paman dan dibawa ke Maumbi. Bersama kakak perempuannya, Anatje, Maria kemudian disekolahkan sang paman di Sekolah Melayu. Sekolah Melayu tersebut merupakan satu-satunya pendudukan resmi yang diterima Maria dan Anatje.

Pasalnya saat itu perempuan diharapkan untuk menikah dan mengasuh keluarga mereka. Saat beranjak dewasa, Maria Walanda Maramis pindah ke Manado dan mulai menulis opini di surat kabar Tjahaja Siang. Maria menuliskan soal pentingnya peran ibu dalam keluarga.

Ia juga menyebutkan ibu memiliki kewajiban untuk mengasuh dan menjaga kesehatan keluarganya. Karena menyadari besarnya peran ibu dalam keluarga, Maria bersama beberapa orang mendirikan Percintaan Ibu Kepada Anak Temurunannya (PIKAT) pada 8 Juli 1917.

Tujuan didirikannya PIKAT adalah untuk mendidik para wanita mengenai hal-hal rumah tangga, seperti memasak, menjahit, merawat bayi, dan lain sebagainya. Di bawah pimpinan Maria Walanda Maramis, PIKAT berkembang pesat dan mulai mendirikan cabang di Maumbi, Tondano, dan Motoling.

Bahkan PIKAT juga memiliki beberapa cabang di Jawa, seperti di Batavia, Bogor, Bandung, Cimahi, Magelang, dan Surabaya. Hampir satu tahun berdiri, PIKAT kemudian membuka sekolah di Manado pada 2 Juni 1918. Hingga Maria meninggal pada 22 April 1924 di Maumbi, ia tetap aktif menjalankan PIKAT.

Untuk mengenang jasanya, pemerintah di Manado membangun Monumen Pahlawan Nasional Maria Walanda Maramis di Desa Maumbi, Kecamatan Kalawat.

10. Arnoldus Isaac Zacharias Mononutu

Arnoldus Isaac Zacharias Mononutu lahir di Manado pada 4 Desember 1896. Dia meninggal di Jakarta pada 5 September 1983. Arnoldus Isaac Zacharias Mononutu dikenal sebagai aktivis Jong Minahasa, Jong Celebes 1927, partai Persatuan Minahasa 1927-1930 dan Anggota Parlemen NIT pada 1947-1949

Dia menjadi Menteri Penerangan Kabinet RIS pada 1949–1950. Menteri Penerangan Kabinet Sukiman-Suwirjo, pada 1951-1952 dan Menteri Penerangan pada Kabinet Wilopo pada 1953. Serta menjadi Dubes RI di Beijing Cina pada 1953-1955

11. Letkol Herman Nicolas Ventje Sumual

Komandan KRIS Yogyakarta, TTL : Remboken/Minahasa, 11 Juni 1923. Tahun 1945-1948 jadi perwira penghubung KRIS di Jakarta. Setelah pindah di Yogyakarta, jadi Pucuk Pimpinan Laskar "KRIS" di sana. Jadi perwira Staf Brigade-XII (ex Laskar KRIS) di Yogya. Tahun 1948-1950 jadi Kepala Staf KRU-X (ex Brigade XII). Tahun 1948 jadi Kepala Staf Brigade-XVI (ex KRU-X) di Yogya. Tahun 1949 jadi Komandan SWK-103A/WK-III di Yogya.

Dalam Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta, sebagai Komandan SWK-103A/Yogyakarta Barat WK-III, memimpin serangan dari arah barat serta berhasil menyerang markas besar tentara Belanda (T-Brigade) di tengah kota Yogya.

Menjadi perwira Komando Pasukan Sulut & Maluku di Manado, lalu menjadi Komandan Kompas B SU-MU di Manado (RI-24). Tahun 1952-1953 menjadi Kasi-I Inspektorat Infanteri AD di Bandung, tahun 1953-1956 menjadi Komandan Latihan & Inspektur Pendidikan di Bandung.

12. Letkol Charles Choesoy Taulu,

lahir di Kawangkoan,Minahasa pada 20 Mei 1909 dan meninggal di Jakarta, 20 Mei 1969. Dia menggerakkan anggota KNIL yang pro-RI untuk menguasai Tangsi KNIL di Teling Manado pada 14 Februari 1946.

Pagi dan siang harinya diadakan perebutan kekuasaan di beberapa kota di Minahasa. Setelah itu, dia diangkat menjadi Komandan Tentara Republik Indonesia Sulawesi Utara (TRISU).

13. Letkol Adolf Gustaaf Lembong,

lahir di Ongkau, Minsel,19 Oktober 1910 dan meninggal di Bandung, 23 Januari 1950. Dia menjadi anggota pasukan sekutu berpangkat Letnan dan bergerilya di hutan Filipina pada 1943. Dia diangkat jadi Komandan Brigade XVI/Pasukan Seberang berpangkat Letkol pada 1948. Ia sempat ditawan oleh Belanda di Ambarawa. Ia mendapat promosi untuk jadi Atase Militer RI di Filipina.

Ia tak sempat memegang jabatan itu karena sekitar seribu tentara APRA pimpinan Westerling di Bandung. Dia gugur di Markas Staf Kwartier Siliwangi saat masih menjabat Kepala Bagian Pendidikan Militer TNI-AD di Bandung.

14. Mayjen Hein Victor Worang

Merupakan Komandan Batalyon Worang; Worang lahir di Tountalete, 12 Maret 1919 dan meninggal di Jakarta, 13 Februari 1982. Worang menjadi kepala pasukan dalam Pemuda RI Sulawesipada 1945. Dia dan pasukannya melawan Inggris dan NICA Belanda di Jawa Timur

Worang membantu Batalyon 3 Mei mencegah Sulut bergabung dengan NIT & pengaruh NICA pada Mei 1950. pasukannya ke Ambon menumpas gerakan Republik Maluku Selatan pada September 1950. Selain itu, membersihkan gerakan pemberontak Darul Islam DI/TII di Sulawesi Selatan pada 1953-1954/ Hein Victor Worang adalah Gubernur Sulawesi Utara periode 1967-1978.

15. Elias Daniel Mogot atau Daan Mogot

Merupakan Pendiri Akademi Militer Tangerang. Daan Mogot lahir di Manado, 28 Desember 1928 dan meninggal pada 25 Januari 1946. Dia masuk PETA saat usianya masih 14 tahun pada 1942. Dia menjadi Komandan TKR di Jakarta berpangkat Mayor dan menjadi Direktur Pertama Akademi Militer Tangerang pada usia 17 tahun.

Dia gugur bersama 36 orang saat melucuti senjata tentara Jepang di hutan Lengkong – Tangerang

16. Kolonel TNI Alexander Evert Kawilarang

Aex Kawilarang lahir di Meestercornelis Batavia, 23 Feb 1920. Menjabat sebagai Panglima Divisi Siliwangi & Indonesia Timur meningga di Jakarta, 6 Juni 2000. Dia menjadi Gubernur Militer Aceh & Sumatera Utara pada 1949-1950 pada usia 29 tahun. Alexander Evert Kawilarang menjadi Panglima Komando TT-III/Siliwangi di Bandung pada 1951-1956. Dia menjadi Atase Militer RI di Washington, AS berpangkat Brigjen pada 1956-1958.

17. Kolonel Jacob Frederik Warouw

lahir di Batavia, 8 September 1917 dan meninggal dunia di Tombatu, Oktober 1960. Dia Wakil Pimpinan Bagian Pasukan Pemuda RI Sulawesi)merangkap Kepala Barisan PRI Sulawesi (PERISAI) pada Oktober 1945.

Dia jadi Kepala Staf Divisi VI Tentara Laut RI (TLRI) di Lawang-Jawa Timur berpangkat Letkol saat usia 28 tahun pada 1946. Dia menjadi Panglima TT-VII/Wirabuana berpangkat Kolonel pada 1954-1956. Kemudian menjadi Atase Militer – Kedubes RI di Beijing Cina pada 1956-1958. Demikian tribunnews.com

Photo : google image

 

Panglima Divisi Siliwangi & Indonesia Timur meningga di Jakarta, 6 Juni 2000. Dia menjadi Gubernur Militer Aceh & Sumatera Utara pada 1949-1950 pada usia 29 tahun. Alexander Evert Kawilarang menjadi Panglima Komando TT-III/Siliwangi di Bandung pada 1951-1956. Dia menjadi Atase Militer RI di Washington, AS berpangkat Brigjen pada 1956-1958.

17. Kolonel Jacob Frederik Warouw

lahir di Batavia, 8 September 1917 dan meninggal dunia di Tombatu, Oktober 1960. Dia Wakil Pimpinan Bagian Pasukan Pemuda RI Sulawesi)merangkap Kepala Barisan PRI Sulawesi (PERISAI) pada Oktober 1945.

Dia jadi Kepala Staf Divisi VI Tentara Laut RI (TLRI) di Lawang-Jawa Timur berpangkat Letkol saat usia 28 tahun pada 1946. Dia menjadi Panglima TT-VII/Wirabuana berpangkat Kolonel pada 1954-1956. Kemudian menjadi Atase Militer – Kedubes RI di Beijing Cina pada 1956-1958. Demikian tribunnews.com

Photo : google image

 




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

Loading....



Temukan juga kami di

Ikuti kami di facebook, twitter, Google+, Linkedin dan dapatkan informasi terbaru dari kami disana.

Jejak Pendapat

Siapakah Ketua Gerakan Perempuan Merah Putih Indonesia
  REV. DR SITI HADIJAH , D MIN, DTH
  Dra. Hj. Khofifah Indar Parawansa, M.Si
  Puan Maharani
  Siti Nurbaya Bakar
  Yohana Yembise

Komentar Terakhir

Video Terbaru

View All Video