Helen Keller, Tunarungu Pendobrak Keterbatasan

By Admin GPMPI 17 Des 2020, 09:56:37 WIB Internasional
Helen Keller, Tunarungu Pendobrak Keterbatasan

Jakarta, GPMPI.com - Banyak orang di dunia kemungkinan besar pernah mendengar nama unik dari tokoh dunia satu ini, Helen Keller. Buta dan tuli tak pernah menghentikannya untuk selalu berkarya, bahkan untuk menghasilkan buku.

Helen merupakan perempuan pertama yang tunanetra dan tunarungu, namun berhasil menjadi seorang penulis, aktivis politik, dan dosen. Dia selalu dikenang sebagai contoh kekuatan besar terhadap advokasi bagi orang-orang dengan disabilitas.

Kelahiran Helen Adams Keller lahir pada 27 Juni 1880 di Tuscumbia, Alabama, Amerika Serikat. Ayahnya bernama Arthur Keller yang merupakan keturunan Kolonel Alexander Spottswood, seorang gubernur kolonial Virginia. Sementara sang ibu, Kate Adams Keller berasal dari keluarga Inggris terkemuka.

Ayah Helen berprofesi sebagai kapten pasukan Konfederasi. Keluarganya kehilangan banyak kekayanaan pada masa Perang Saudara sehingga membuat mereka hidup sederhana. Helen mulai berbicara sejak usia 6 bulan dan dapat berjalan pada usia satu tahun. Pada usia 19 bulan, Helen menjadi buta dan tuli karena penyakit yang tidak diketahui, namun kemungkinan karena rubella atau demam scarlet.


Pada saat itu, dokter keluarganya menyebut penyakit yang menyerang Helen sebagai "demam otak" sehingga membuat suhu badannya tinggi. Ibu Helen menyadari putrinya tidak bereaksi terhadap apa pun ketika bel makan malam berbunyi, atau lambaian tangan tepat di depan wajahnya. Tumbuh kembangnya dibantu oleh putri bungsu koki di rumahnya, Martha Washington. Keduanya menciptakan metode terbatas untuk berkomunikasi.

Mereka selanjutnya menemukan lebih dari 16 simbol komunikasi satu sama lain. Namun Helen menjadi anak yang liar dan tidak patuh. Dia menendang dan berteriak ketika marah, serta cekikikan tak terkendali ketika merasa bahagia. Helen Keller bersama dengan gurunya, Anne Sullivan.

Bertemu sang guru

3 Maret 1887 menjadi hari yang kelak akan mengubah hidup Helen saat dewasa. Hari itu, Anne Mansfield Sullivan tiba di Tuscumbia untuk menjadi gurunya. Dia mengawali tugasnya dengan mengajarkan isyarat jari kepada Helen kecil, dimulai dengan kata "doll".

Kata itu dipilih untuk membantu Helen memahami hadiah yang selama ini dia bawa ke mana-mana, yaitu sebuah boneka. Pertama-tama, Helen tampak tertarik, tapi selanjutnya dia menentangnya dan menolak perintah Anne. Helen menjadi frustasi atas kesulitan belajar yang dia hadapi.
Anne meminta kepada keluarga Keller agar dia dan Helen pindah ke suatu tempat sehingga anak perempuan itu dapat berkonsentrasi. Kemudian, mereka pindah ke sebuah pondok di perkebunan. Setelah melewati kesulitan dramatis, Anne berhasil mengajarkan kata "water".

Dia membantu Helen menghubungkan antara objek dan huruf-huruf itu dengan membawanya ke pompa air, menempatkan tangannya ke ujung pompa. Anne menekan tuas untuk mengeluarkan air dingin hingga mengenai salah satu tangan Helen, yang kemudian mengeja kata "water" di tangan satunya. Hingga malam tiba, dia telah belajar 30 kata. Pada usia 10 tahun, dia ingin belajar berbicara.

Pendidikan formal

Untuk itu, Anne membawa Helen menemui Sarah Fuller di Horace School for the Deaf and Hard of Hearing di Boston. Sejak kecil, Helen ingin sekali kuliah. Pada 1898, dia sekolah di Cambridge School for Young Ladies untuk mempersiapkan dirinya masuk ke Radcliffe College. Dia berhasil diterima di Radcliffe pada musim gugur 1900 dan menerima gelar cum laude Bachelor of Arts pada 1904 pada usia 24 tahun.

Dia menjadi orang buta dan tuli pertama yang memperoleh gelar tersebut. Setelah lulus kuliah, Helen ingin mengetahui lebih banyak tentang dunia dan bagaimana dia bisa membantu kehidupan orang lainnya. Mengembangkan keterampilan yang tidak pernah dilakukan orang sepertinya, dia mulai menulis tentang kebutaan, sesuatu yang tabu pada majalah perempuan karena banyak kasus seperti itu berhubungan dengan penyakit kelamin.

Korea Editor pemenang Penghargaan Pulitzer, Edward W Bok, menerima banyak artikel karyanya seperti Ladies' Home Journal, dan majalah besar lainnya seperti The Century, McClure's, dan The Atlantic Monthly juga menerima tulisannya. Dia juga menulis beberapa buku, seperti The Story of My Life (1903), Optimism (1903), The World I Live In (1908), My Religion (1927), Helen Keller's Journal (1938), dan The Open Door (1957).

Perjalanan terhebat

Kisahnya menyebar hingga Massachusetts dan New England. Bak selebriti, semua orang mengenalinya. Pada paruh abad 20, Helen menyoroti isu sosial dan politik, termasuk hak pilih bagi perempuan, perdamaian, dan pengendalian kelahiran.

Dia berpidato di depan Kongres untuk menyerukan peningkatan kesejahteraan bagi tunanetra. Pada 1915, bersama dengan perencana kota ternama George Kessler, dia mendirikan Helen Keller International. Lembaga berfokus memerangi penyebab dan konsekuensi kebutaan, serta manultrisi.

Pada 1920, dia membantu mendirikan American Civil Liberties Union. Ketika American Federation for the Blind (AFB) berdiri pada 1921, Helen memiliki sarana efektif untuk mengupayakan perjuangannya.

Helen bergabung dengan AFB pada 1924 dan bekerja untuk organisasi tersebut selama lebih dari 40 tahun. Yayasan memberinya akses global untuk memperjuangkan hak-hak tunanetra. Dan tentu, dia tidak akan membuang kesempatan itu.

Sebagai hasil dari perjalanannya ke seluruh AS, komisi negara bagian untuk tunanetra diciptakan, pusat rehabilitasi dibangun, dan pendidikan khusus bagi mereka. Pada 1936, guru kesayangan Helen dan teman akrabnya, Anne Sullivan, meninggal dunia. Helen Keller kerap mengunjungi sekolah khusus tunanetra.

10 tahun kemudian, Helen diangkat menjadi konselor hubungan internasional untuk American Foundation of Overseas Blind. Pada 1946-1957, dia sudah melakukan perjalanan ke 35 negara di 5 benua. Pada 1955, Helen memulai perjalanan terpanjang dan paling melelahkan dalam hidupnya. Selama lima bulan, dia melintasi Asia, membawa inspirasi, dan dorongan kepada jutaan orang. Pertemuan Lions Clubs International Foundation pada 1961 di Washington DC menjadi penampilan terakhirnya di depan publik.

Dunia Kala itu, dia menerima Lions Humanitarian Award untuk segala hal yang telah dilakukan seumur hidupnya, terutama dalam mendorong semangat tunanetra dan program bantuan bagi mereka.

Kematian Helen Keller meninggal dunia pada 1 Juni di Arcan Ridge, beberapa pekan sebelum ulang tahunnya ke-88 tahun. Abunya ditempatkan di samping teman dekatnya, Anne Sullivan, di St Joseph's Chapel of Washington Cathedral. Tekun mengatasi kondisinya yang begitu sulit, dia dikenang sebagai seorang aktivis terkenal dan dihormati di seluruh dunia. Demikian Kompas.com




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

Loading....



Temukan juga kami di

Ikuti kami di facebook, twitter, Google+, Linkedin dan dapatkan informasi terbaru dari kami disana.

Jejak Pendapat

Siapakah Ketua Gerakan Perempuan Merah Putih Indonesia
  REV. DR SITI HADIJAH , D MIN, DTH
  Dra. Hj. Khofifah Indar Parawansa, M.Si
  Puan Maharani
  Siti Nurbaya Bakar
  Yohana Yembise

Komentar Terakhir

Video Terbaru

View All Video