Buatlah Dia Senang

By Admin GPMPI 22 Feb 2020, 21:10:57 WIB Metropolitan
Buatlah Dia Senang

Jakarta, GPMPI.com - Sore itu, Jumat 21/2. Siti Hadijah ( Ketua GPMPI_red) bersama lima sohibnya seperti 'terpaksa' mendatangi resto pinggir jalan. Sate Blora di Rawamangun.

Kenapa terpaksa. Tiga hari sebelumnya, Siti telah agendakan makan sate dan mau bakudapa di tempat itu bersama teman-teman. Jumat siang.

Kamis 20/2 malam, Siti membatalkan rencana makan sate. Karena pagi-siang hari itu harus hadiri seminar bertajuk perempuan Papua di sebuah hotel di Jakbar.

Jumat jam 17:00 Siti dkk, terundang pada syukur HUT ke-70, rekan Nino Manoppo di aula Kampus B ASMI.

Letak kampus ASMI tak terlalu jauh ke Sate Blora Rawamangun, perjalanan lebih kurang lima sampai tujuh menit saja.

Sebelum jam J acara di ASMI, rekan-rekan Siti sudah pada kumpul.

Ada yang datang jam 15:30, ada yang jam 16:00. Siti tiba sebelum jam 17:00.

Di kantin ASMI, mereka pesan tiga porsi Mie Cakalang, makanan khas Manado.  

Makan dan kumpul-kumpul atau kumpul dan makan-makan menjadi tradisi orang Indonesia.

Eh ternyata, sang pelayan kantin beri kabar: "Maaf bu, mie sudah basi jadi nggak bisa lagi dimakan"

Wajah kecewa dibakas dengan : "Makan di luar saja, kalo gitu". Seperti koor, semua sepakat.

"Tapi jangan jauh-jauh ya," timpal saya, karena sudah hampir jam 17.

Naiklah Siti plus lima rekannya ke dalam mobil.

Ibu Jeane Mamesah seperti 'memaksa'. "Makan di Sate Blora jo, cuma dekat koq ke Rawamangun".

Sang driver, Pak Max Salendu pun, suami Jeane, dengan cekatan  membawa kami, melewati Pacuan Kuda Pulo Mas ke Rawamangun.

Sekira tujuh menit kami tiba. Terpesanlah, Sate Ayam, Sate Kambing. Dua porsi.

Di resto ini ada juga menu Sop Buntut Sapi. Kami pesan empat porsi plus teh tawar panas.

Lagi asyik-asyiknya menyantap sate dan sop, masuklah anak kecil. Dia menawarkan tisu kemasan sedang.

"Maaf dik, kami masih makan," sahut kani. Si Anak, sebagaimana lazimnya penjual jalanan terus memaksa.

Tapi akhirnya si anak melangkah, mau pergi karena dagangannya tak diminati.

Saat itulah, Siti seperti tergerak. Rupanya sang anak jalanan bilang: "hari ini saya belum makan".

Bergegas, Siti memegang pundak sang anak merapat ke pengelola resto.

"Siapkan sop untuk anak ini ya, saya yang bayar," Siti meyakinkan.

Si anak rupanya menolak, takut dimarahi pengelola resto.

Siti pun yakinkan si anak. "Nggak apa-apa, saya yang bayar. Katanya belum makan".

Tak lama, makanan pun datang. Sop daging dan nasi putih serta air minum.

Si anak masih sungkan memakan sajian di atas meja.

Siti yang terus mendampingi, menyuapi mulut si anak dengan makanan lezat itu.

Tampak si anak jalanan, terheran. Mungkin bertanya: "Mimpi apa ya tadi malam. Koq saya disuapi si ibu yang saya tidak kenal. Dengan tulus. Dengan kasih sayang..?"

Siti terus menyuapi, menyuapi dengan tulus hati, melayani dengan tuntas sampai makanan habis.

 Layaknya ibu kepada melayani anak kandungnya. Sesekali Siti bercanda. Membuat anak itu tertawa. Riang.

Si Anak jalanan yang masih kecil, sekira enam tahun, ternyata yatim piatu.

Dia tinggal di Klender, bersama neneknya.

Banyak cara Tuhan membimbing pelayanNya menemukan dengan sesama yang patut dilayani

Kendati, awalnya seperti 'terpaksa' atau 'dipaksa'.

Semula teragenda, lalu batal, dan akhirnya terpaksa ke Sate Blora Rawamangun juga.

Ternyata, Siti mau dipertemukan hatinya dengan hati sang anak jalanan

"Buatlah dia senang," pesan Siti kepada kami yang bergegas kembali ke syukuran Ibu Nino.

*_SELAMAT ULANG TAHUN ke 70 Ibu NINO BOLANG-MANOPPO_*. (Fry)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

Loading....



Temukan juga kami di

Ikuti kami di facebook, twitter, Google+, Linkedin dan dapatkan informasi terbaru dari kami disana.

Jejak Pendapat

Siapakah Ketua Gerakan Perempuan Merah Putih Indonesia
  REV. DR SITI HADIJAH , D MIN, DTH
  Dra. Hj. Khofifah Indar Parawansa, M.Si
  Puan Maharani
  Siti Nurbaya Bakar
  Yohana Yembise

Komentar Terakhir

Video Terbaru

View All Video